Dakwah Lewat Tulisan: Bermodal Tinta, Berbalas Surga May 26, 2008
Posted by roustantyo in Artikel.Tags: Artikel, dakwah
add a comment
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”
(TQS. Fushshilat: 33)
Sobat, ngomong-ngomong soal dakwah, jadi ingat satu kalimat dari seorang ulama, afwan lupa namanya, hehe. Gini katanya, “Seandainya al-Quran itu diturunkan dengan satu surat saja, maka yang turun itu adalah Surat al-Ashr.” Lho, knapa Surat al-Ashr? Sobat, ternyata dalam surat tersebut sudah mencakup unsur-unsur yang merupakan ruh dari Islam itu sendiri, yaitu perintah untuk tolong-menolong dalam menyeru kepada kebenaran dan kesabaran. Mestinya sih ya, kalo agama ntu ga’ ada perintah buat menyeru pada jalan kebenaran, sudah pasti agama itu bukanlah menjadi agama yang rahmatal lil alamin. Begitulah Islam, Sobat. Kita juga sebagai pemeluknya (walopun masih muda-muda, ciee), kudu tahu akan hal ini. Demi terwujudnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, kita juga harus menyeru kepada kebenaran. Kalo orang-orang bilang sih, nama kerennya, DAKWAH.
Lha terus, gimana caranya? Allah swt. berfirman: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (TQS. An-Nahl: 125). Sebenernya sih, banyak caranya, Sobat. Yang penting dasarnya Surat an-Nahl di atas. Nah, yang paling gampang itu lewat tulisan. Lho kok bisa? Ya iyalah…
Pertama, dakwah yang kamu sampaikan itu lebih tahan lama alias ga’ gampang hilang-lenyap. Tiap saat, tiap waktu, bisa dibaca dan dibaca lagi. Umpama pas suatu saat iman qta lagi turun, trus qta lupa, bisa dibaca lagi tuh tulisannya. Hebat kan?
Kedua, apa udah qta tulis ntu bisa dikoreksi lagi alias diralat. Kalo ada kata-kata yang salah atawa kuarang pas, bisa qta ganti-ganti dikit deh. Hebat kan?
Ketiga, dakwah lewat tulisan itu lebih sopan, Coy. Kata-kata lewat tulisan yang qta sampaikan ntu bisa qta “rekayasa” pake bahasa-bahasa yang halus (tepung kali). Pake’ krama inggil juga gpp. Yang penting kan isi tulisannya bisa dipahami, ya ga’, Pren?
Keempat, ini yang paling mutakhir. Kata orang-orang sih, dakwah lewat tulisan itu lebih keren. Woi-woi, koq bisa sih? Orang bilang sih ya, seorang penulis dengan sorang penceramah, itu masih kerenan penulis. Apalagi kalo tulisannya bagus-bagus, wah-wah bisa disanjung-sanjung tuh ma orang-orang. Contohnya, liat aja tuh Kang Abik, penulis novel best-seller Ayat-Ayat Cinta, yang katanya sih sudah ada filmnya. Wuih, keren ga’ tuh. Sampe segitunya ya, orang yang berdakwah lewat tulisan, hehe.
Kelima, Sobat, al-Quran aja ditulis. Ini nunjukin kalo tulisan itu penting. Bayangkan, padahal waktu itu kan sahabat udah pada hapal smua isi al-Quran, tapi masih aja susah-susah mereka tulis. Tuh, itu-tu buktinya, seperti kata Cagur, “Nulis itu penting!”
Keenam, bisa dapat penghasilan. Iya tah? Bisa aja. Itu kalo tulisan qta saking bagusnya sampe-sampe jadi best-seller (amiiin).
Ketujuh, dengan smua manfaat yang udah disebutin di atas, tentunya dakwah lewat nulis lebih efisien kan? Bisa qta lakukan kapan saja, dimana saja. Sambil nyicil nulis dikit-dikit, itupun juga bisa. Hehe, hebat kan?
Namun….., yang namanya dakwah itu, Sobat, dari jamannya para nabi, jamannya para khalifah, jamannya walisongo, sampe sekarang ni, tetep aja, ada halang-rintang. Entah itu karena males, tulisan qta ditolak dan dibuang, dibilang orang aneh, sampe dimusuhi pun bisa saja qta alami. Tak hanya itu lho, Sobat, jamannya para sahabat dulu, bahkan sampe ada yang disalib setelah disiksa dengan kekejaman yang amat sangat, (T.T). tapi, itu smua ga’ pernah mematahkan semangat juang kaum muslimin ‘tuk terus berdakwah. Tawaran Allah swt. dalam surat cinta-Nya: Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (TQS. As-Shaff: 10-11). Itu smua, jihad fi sabilillah qta dalam bentuk tulisan, udah ditawari ma Allah supaya ditukar dengan keselamatan dari azab yang pedih. Tuh, sapa coba yang mw diselamatkan dari siksa yang pedih? Surga, woi, balesane.
Kalo ingat balasannya pasti aja langsung semangat, tapi kalo udah berhadapan dengan yang namanya rintangan, yah kambuh lagi tuh penyakitnya (males dan teman-temannya). Waduh-waduh, gimana nih cara ngatasinya? Kata Rasulullah, dalam hadis yang diriwayatkan Imam Ahmad, disebutkan: “Tiap orang yang melakukan aktivitas pasti ada hambatan. Jika menemui hambatan itu ia berpegang teguh pada Sunnahku, maka ia akan tetap mendapat petunjuk. Jika tidak, ia akan celaka.” Nah, karena itulah sebenernya cara ngatasinya gampang koq, yakni dengan Quran dan Sunnah. Lebih spesifik salah satunya tuh, udah ada di awal banget tadi. Yup, dalam Surat al-Ashr disebut sabar. Bersabarlah kawan, jalan ke surga itu mendaki, sedang jalan ke neraka itu terjun. Jelas lebih susah mendaki, kalo ga’ percaya tanya aja tuh ma anak Pecinta Alam. Kuatkanlah dirimu dengan al-Quran, Sobat. Minta tolonglah kamu dengan sabar dan sholat. Tnang aja, sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.
Oke, slamat berjuang kawan, smoga dikau tetep brada di jalan-Nya yang lurus. Banyak-banyaklah minta ampun pada-Nya supaya dikau beruntung. Tulislah. Tulislah untuk perubahan menuju dunia yang lebih baik. Ingat, tiada kemuliaan, di dunia maupun di akhirat, tanpa Islam. Wassalam. Wallahu a’lam bisshowab.
“Duhai kau yang menderita karena lindungan pada Allah,
senyumlah menghadapi kesukaran.
Pasti sengsaramu berubah jadi senyuman!”
<Syeikh Badiuzzaman Said Nursi>
(Rr)
Sekolah Berbasis Religius; Lelucon atau Gurauan May 26, 2008
Posted by roustantyo in Artikel.Tags: Artikel
5 comments
Awalnya, Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Surabaya alias Smadabaya yang terpilih menjadi Sekolah Percontohan Berbasis Religius, memang memunculkan banyak tanda tanya. Baik dari pihak Dewan Guru maupun para siswa, rata-rata memunculkan pertanyaan yang sama yakni, “Bagaimana bisa?”
Terkait dengan hal tersebut, kami amat tertarik untuk sedikit angkat bicara mengenai hal ini. Dan dalam tulisan kami kali ini, semata-mata hanya ingin menyampaikan uneg-uneg kami.
Pertama, kita perlu melihat terlebih dahulu, sebenarnya apa arti kata basis dan religius. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Praktis, arti kata basis adalah asas; dasar. Sedangkan religius berarti taat pada agama; saleh. Jadi, kalau kita terjemahkan bebas arti kata berbasis religius berarti berdasar atas ketaatan pada agama. Ini berarti Sekolah Berbasis Religius bisa bermakna sekolah yang didasarkan atas ketaatan pada agama. Bukankah ini artinya apa yang ada di sekolah tersebut haruslah mempunyai ketaatan terhadap agama?
Faktanya, sedikit sekali, bahkan bisa dikatakan sangat kurang, kadar ketaatan warga Smada terhadap agama. Ini terlihat pada kegiatan ekstra kurikuler (ekskul) keagamaan yang ada di sekolah. Sebab jika dilihat dari total frekuensi kegiatan ekskul keagamaan (SKI, SKP, SKK, SKH), siswa yang mengikuti ekskul agamanya masing-masing, jumlahnya tidak lebih dari 50%. Itu pun masih dihitung rata-rata, untuk SKI sendiri jumlah siswa yang mengikuti, walaupun hanya sekali saja, tak lebih dari 17%. Sungguh ironis. Bukankah ini suatu hal yang mengagetkan ketika Smada terpilih sebagai Sekolah Berbasis Religius? Walaupun toh memang kegiatan ekskul tersebut belum secara pasti menjamin tingginya religi seorang siswa. Tapi pada nyatanya adanya pihak sekolah meng-ada-kan ekskul ini bukankah untuk membantu meningkatkan religi siswa, sehubungan dengan kondisi sekolah umum yang tidak menyediakan jam pelajaran lebih untuk bidang studi Agama. Dengan kata lain, pihak sekolah “meminta bantuan” kepada ekskul-ekskul tersebut untuk membina religi para siswanya.
Yang kedua, jika dilihat dari ketaatan menjalankan ibadah sehari-hari (dalam kasus kali ini adalah sholat, untuk yang beragama Islam), maka faktanya masih banyak para siswa yang meninggalkan sholatnya. Parahnya lagi, mereka yang meninggalkan sholat ini masih saja tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tidak banyak dari mereka yang berpikir untuk memperbaiki dirinya. Hal ini biasa terapung pada pesantren ramadhan yang tiap tahun diadakan di Smada. Akan selalu ada pertanyaan tentang “siapa yang sholatnya bolong”, dan selalu tidak dua atau tiga siswa yang mengangkat tangannya. Kejadian ini pun selalu terulang tiap tahunnya. Hampir-hampir saja tidak ada perubahan. Masalahnya hanya pada kesadaran. Kesalahan bisa terjadi pada setiap orang, yang penting adalah bagaimana supaya bisa memperbaikinya. Pasalnya tidak semua alias sedikit sekali yang tahu ataupun mencari tahu bagaimana cara memperbaiki kesalahan tersebut. Mengapa? Kembali pada fakta di atas mengenai kurangnya antusiasme siswa dalam mengikuti ekskul keagamaan.
Alasan lainnya ialah tentang peraturan alias tata tertib. Biasanya, untuk sekolah yang ditunjuk sebagai percontohan, seyogyanya memang melakukan penambahan-penambahan ataupun sekedar melakukan perubahan-perubahan dalam peraturannya. Dan dalam hal terpilihnya Smada menjadi Sekolah Berbasis Religius ini, dari pihak sekolah sendiri belum berbuat terlalu baik dalam merespon pemilihan tersebut. Meskipun toh peraturan-peraturan yang sudah ada sekarang dinilai cukup, tapi masih saja ada kekurangan di sana-sini yang dirasa harus di-cover dengan peraturan-peraturan baru dari pihak sekolah. Beberapa aturan baru yang terkait dengan hal ini hanyalah adanya piket guru untuk imam jamaah sholat Dzuhur. Selebihnya hanya penambahan aturan untuk mendisiplinkan para siswa dalam mengikuti jam pelajaran. Sedangkan untuk peraturan yang lebih didasari ketaatan beragama; seperti aturan pakaian untuk muslimah, kewajiban menutup aurat, aturan-aturan yang terkait dengan pergaulan antar jenis, ataupun aturan untuk mendorong siswa guna mengikuti ekskul-ekskul keagamaan; sejauh ini belum terlihat adanya. Akan tetapi yang paling penting, baik apapun yang terjadi dengan peraturan sekolah yang akan ditetapkan nanti, kita sebagai siswa harusnya menjalankan dengan komitmen dan konsistensi yang tinggi.
Akhirnya dengan fakta-fakta di atas, memang sedikit mengherankan jika sekolah kita, SMA Negeri 2 Surabaya, ini dijadikan percontohan Sekolah Berbasis Religius. Tak salah juga kiranya jika muncul pertanyaan, yang kami sebutkan di awal, oleh para warga Smada. Tapi pertanyaan tetaplah pertanyaan, tidak adalah gunanya jika terus ditanyakan tanpa berbuat sesuatu. Sekarang ini pada kenyataannya sekolah kita sudah jadi percontohan sekolah berbasis religius, pantaskah jika kita hanya diam dan tidak berbuat apa-apa sembari menanyakan pertanyaan yang sama, “bagaimana bisa?”
Disadari atau tidak, kita termasuk warga SMA Negeri 2 Surabaya, kawan. Sekarang kalau saja bukan kita yang mengubah kondisi Smada saat ini, maka siapa lagi yang bisa? Dan sekarang ini juga bukan saatnya untuk berkilah soal hidayah atau siap nggak siap. Ini saatnya kita saling bahu-membahu mewujudkan ini. Yang sudah bisa mengajari yang belum bisa. Yang lebih tahu berbagi ilmu kepada yang kurang tahu. Yang kuat memberi dukungan pada yang lemah. Yang lebih beruntung memberi kepada yang kurang beruntung. Bukankah seperti itu yang diajarkan agama? Jika kita sendiri tidak mau berubah, maka tidak akan ada yang berubah. Bila sudah seperti itu, sama halnya dengan pernyataan, Smada Berbasis Religius; lelucon atau gurauan?